Kamis, Februari 24, 2011

Maukah Kau Meninggalkan Kota Di Hati Kita?

Maukah kau meninggalkan kota di hati kita?


Bersamaku
Tinggalkan padatnya manusia
Tinggalkan deadline- deadline
Tinggalkan peraturan-peraturan yang tak masuk akal
Tinggalkan cicilan rumah dan tagihan kartu kredit
Tinggalkan pekerjaan memuakkan dan bos sakit jiwa
Tinggalkan kemacetan yang melumpuhkan syaraf tulang belakang
Tinggalkan gaya hidup yang tidak menghidupkan
Tinggalkan nafsu-nafsu kota
Tinggalkan keramaian
Tempat kita merasa paling sepi dibanding sepi-sepi di tempat lain dimana pun di dunia


Kita ajak hati kita
pergi ke sebuah rumah mungil
Udara terbuka tak terhalang gedung tinggi
Desa di kaki bukit
Sungai kecil mengalir di belakang rumah
Anak-anak kita berlari bebas
Meninggalkan galau di loteng berdebu
Kita berdansa di bawah bintang dan awan
Seperti sepasang merpati kalap cinta


Bersamaku
Maukah kau meninggalkan kota di hati kita?

Tidak ada komentar: