Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Jumat, November 25, 2011
Senin, September 05, 2011
Korupsilah Sebelum Kau Dikorupsi-i
Marilah kita korupsi, sekorup-korupnya
Karena korupsi itu warisan budaya bangsa
Korupsilah agar kau kaya
Korupsilah karena kau kuasa
Tidak korupsi tidak mungkin kaya
Tidak korupsi karena tak bisa
Berkat korupsi kau kan mampu
Beri anak cucu pendidikan bermutu
Cukup pangan cukup sandang cukup papan
Dengan korupsi kau dimuliakan
Sumbang sedikit untuk mesjid atau gereja
Lalu bertobat nasuha di hari tua
Pintar, bukan?
Korupsilah sebelum kau dikorupsi-i
Korupsilah atas nama pembangunan itu sendiri
Korupsilah kala pagi atau siang hari
Korupsilah di sepertiga malam terakhir
Korupsilah, sesungguhnya korupsi hanya hadir
Pada jiwa si pemberani membuat takdir
Korupsilah, semua undang-undang itu banci
Toh masuk penjara dapat remisi plus terkenal bak selebriti
korupsilah, korupsi sendiri-sendiri melatih nyali
Atau berjamaah membangun tim kuatkan ukhuwah
Korupsilah karena korupsi tidaklah susah
Cukup sedikit malu dan banyak siasat sampah
Atau jujur saja, oh susahnya
Dengarkan jerit kaum papa di kampung kumuh
Atau serapah petani dalam diam penuh
Saksikan jutaan bayi kurang gizi
Menangis bergidik ngeri
Karena popok mereka adalah belitan hutang negeri
Warisan mereka nanti
Atau jujur saja, oh susahnya
Bayangkan dirimu adalah mereka yang tidak mengerti
Kemana uang pajak lari tinggalkan mereka dalam kemiskinan abadi
Bayangkan seberapa banyak yang kau ambil lewat korupsi
Dan seberapa banyak bencana untuk negeri sebagai ganti
Bayangkan amarah yang kau semai dalam dada mereka yang kau curi
Dan berlipat-lipat amarah Tuhan karena amanah kau kebiri
Atau jujur saja
Dengarkan nurani bicara
(itu kalau masih ada
Belum dikorupsi juga)
Rabu, Agustus 31, 2011
Rabu, Agustus 17, 2011
Ketika Atuk Pergi
Ketika Atuk pergi
Saat itu malam menjelang tua
Huru hara
Manusia bergegas-bergegasRuang tamu dibersihkan
Tikar digelar
Tenda
Bendera
Gelas plastik air kemasan
Berita dari pintu ke pintu
Pekik speaker masjid
Mengumumkan air mata
Kain hijau penutup ruangan
Selendang untuk mengikat kepala
Selendang mengikat kaki dan tangan
Kain dijajarkan
Kerudung hitam
Peci kekecilan
Al-Quran berdebu
Nampan untuk uang
Yasin satu satu
Dan tangis di lidah yang kelu
Ketika Atuk pergi
Rindu pecah
Kilasan-kilasan bagai bisul bernanah
Bahkan ingatan yang paling indah
Menimbulkan sensasi serupa daging dihujam anak panah
Kata-kata yang tak sempat terucap
Kata-kata yang mengapa sampai terucap
Penyesalan bagai pahit empedu di langit kerongkongan
Penyesalan bagai bayangan yang tercipta meski gulita meliputi terang
Penyesalan bagai titik yang terus membesar menutupi pandangan
Penyesalan bagai lamunan namun sadar sepenuhnya kenyataan
Penyesalan bagai sesuatu yang muram
Sesuatu yang disadari akan selalu menjadi bagian dari kesadaran
Ketika Atuk pergi
Sebagian hidup turut dibawa pergi
Kamis, Juli 21, 2011
Bertiga Adalah Semesta
Langit bernaung senyum yang tegar
Dinding rumah kuning senja
Serta sesuatu yang disebut cinta
Melabur hingga ke sudut-sudut jendela
Hidupmu adalah perjuangan
Asa menjadi nyataGelombang doa
Bertahan dari tikaman
Menghitung ketabahan
Cukuplah mereka yang dicintai
Energi untuk tetap berlari
Bertiga
Bertiga
Adalah semesta
Senin, November 15, 2010
dik, ini sekotak susu
dik, ini sekotak susu
untuk mengganti kealpaanku
mengetahui keberadaaanmu
setiap hari melewatimu
di lampu merah
tak peduli, tak mau tahu
dik, ini sekotak susu
untuk mengganti napasmu
yang sesak disumpal asap motorku
untuk masa mudamu yang digadai kemiskinan
untuk sejuta serapah yang ku pendam
bagi mereka yang tidak peduli keadaaanmu
sejuta serapah yang kemudianberbalik ke diriku sendiri
esok mungkin gelombang semangat baru
kau bangkit dari keterpurukanmu
lalu lusa mungkin giliranmu
memberikan sekotak susu
kepadaku
siapa tahu?
Jumat, November 12, 2010
Bayi Nova, Burung Nazar, dan Pahlawan Kesiangan
Ahad petang hari di Salemba
Saat aku melihatmu bayi Nova,
Dalam gendongan bunda yang berlinang air mata
Matamu bayi Nova, menatap kosong ke depan,
Seakan faham mengapa bapakmu tiba-tiba lunglai pingsan
di tengah jalan
Memeluk adikmu yang menjerit ketakutan
Bangun Pak!
Kenapa?
Mau kemana?
Belasan manusia mengitari iba.
Ke Cipto, Nova sakit, kata ibumu
Tolong mas, Tolong antarkan
Pinta salah seorang wanita kebingungan
Ayok naik sini, sebuah angkot berhenti
Tolong bawa ya bang, saya dari belakang mengikuti
Supir angkot tancap gas tak ragu lagi
Mengitari Salemba lewat stasiun cikini
Masuk UGD, kuparkir motor sembarang tak peduli
Pikiran kalut diburu firasat buruk di hati
Benar, benar saja
shit@#@#$!
Dalam usiamu yang beranjak tiga
Engkau bayi Nova, sudah lama tiada
Sebelum tiba di rumah sakit
Engkau sudah pergi menuju pelukan Tuhanmu
Sejak engkau berpanas-panas di kampung melayu
Di dalam angkot yang ngetem cari penumpang
Harap maklum supir belum dapat setoran
Setelah menempuh perjalanan nyaris empat jam dari Bogor
Setelah dua hari panas tinggi tak henti menggedor
Setelah bapakmu melepaskan egonya lalu meminjam uang ke sana-sini
Yang hanya cukup untuk pergi, tak cukup untuk kembali
Anak ibu telah meninggal
Sebelum datang kesini
Ibu yang sabar, kata dokter datar
Ibumu, mengusap kepalamu
Dalam tangis yang tertahan di ujung bibir yang bergetar
Dan air mata yang menganak sungai mengharu biru
Bapakmu, pingsan berulang kali
Anak saya ga papa kan pak?
Masih hidupkah?
Tanyanya lemah
Anak bapak sudah meninggal, bapak harus tabah
Bapakmu kembali pingsan, rebah
Kalah
Sudah bang Agus, terima kasih,
Abang supir balik saja, biar saya menemani
Ga papa mas, kata abang supir
Saya tunggu, kesian orang susah
Saya mo nolong ajah
Rumahnya jauh, di bogor sanah
Entar pulang naik apah?
Naik ambulan bisa kena sejutah
Iya juga, kataku dalam hati
Masih ada orang baik di muka bumi ini
Seorang supir angkot, kau tak menyangka
Bisa juga punya hati mulia
Abang tulungin ajah si ibu
Biar bayinya bisa cepet dibawa pulang
Disini lama,berbelit
Yang mudah bisa jadi sulit
Masa’ sih, mana mungkin begitu, pikirku ragu
Rumah sakit kan penuh petugas yang senantiasa siap menolongmu?
Kutatap Hasan bapakmu, Bayi Nova
Koko putih dekil dan celana kotor tiga ukuran lebih besar
Adikmu Sigit mengusap ingus dengan punggung jari
Bayi kumal satu tahun yang belum mengerti tragedi sedang terjadi
Ibumu Aminah menahan tangis dengan ujung kerudung warna warni
Yang kusam melambai menghitung hari
Ini yang kedua, kata ibumu tabah
Kakaknya Nova juga meninggal karena demam berdarah
tiga bulan sebelumnya
Engkau bayi Nova
Punya tumor di kornea mata
Mata kucing istilah ibumu
Karena iris matamu tengah-tengah tak berwarna
Sebulan lalu dioperasi,
Minggu besok seharusnya kemoterapi
Pakai Jamkesmas, kata ibumu
Seakan tahu pertanyaan di kepalaku
Bagaimana membayar semua itu
dan disini, di kamar jenazah
bapakmu berusaha tabah
membuka selubung pembungkus kepala
mencium dirimu bayi Nova
dan berkata
maafkan ayah
maafkan ayah
Aku menelan ludah
Pahit
Tapi tak sepahit kehidupan mereka
Bukan penyakit yang membunuh anak mereka
Tapi kemiskinan yang kuat mendera
Mungkin, jika bapakmu yang tukang kebun punya uang
Kau Bayi Nova, tak perlu berpulang
Kau punya waktu untuk berjuang
Kubayangkan bayi Nova
Lima belas tahun ke depan
Kau punya kesempatan jadi gadis yang cantik
Dengan senyum yang manis
Dan mata palsu yang indah
Agus, Supir angkot setia menemani
Menghibur bapak, memegangi Sigit bayi
Bang, bantuin si ibunya
Begitu usulnya
Kesian, biar cepet pulang
Dan ga kena biaya gede
Kuantar sang ibu mendaftar
Mengurus surat kematian
Dan mengambil jenazah
Lempar sana pingpong sini
Untuk sekedar fucking birokrasi
Begitu berbelitkah di Indonesia
Orang mati saja, urusannya dua jam baru selesai semua
Maghrib
Azan memanggil orang mengingat Tuhannya
Hatiku memanggil kesuciannya
Mayat-mayat membujur di ruang jenazah
Kaki yang kuning tak tertutupi
Bilakah aku menghadap-Mu, duhai Robbi
Mas, kata seorang petugas
Dua puluh lima ribu, mayat sudah dikemas
Tak punya uang, kata ibumu cemas
Namun engkau akhirnya bisa pulang, Bayi Nova
Berkat Jamkesmas
Meski pelayanan serba terbatas
Dan aku terpaku melihatmu, bayi Nova
Di dalam angkot M01
Tubuh kecil dibalut balutan kain batik abu-abu
Ayahmu tabah memangku dirimu
Dan ibumu yang tegar mengukur waktu
Aku tak dapat menemani
Bapak, Ibu, sing sabar ya
Menghadapi cobaaan ini
Abang supir, trima kasih atas bantuannya sampai kini
Saya tak punya uang, hanya lima puluh ribu
Sekedar menambah uang solar
Uang setoran pasti tak terkejar
Mas, ini tidak cukup
Tidak cukup? Kok begitu?
Uang setoran saya dua ratus lima puluh ribu
Lho!!! Bukannya tadi bilang mau membantu
Tapi uang solar aja ga kebeli!
Ya ,gimana? Saya tak punya uang lagi
Tadi mas kan janji akan menjamin
Setan, tadi gw suruh pulang, bilangnya lain
Ya sudah, naik angkot yang lain
Setan, orang kesusahan loe bikin main-main
Bayi Nova
Padamu aku mengadukan
Kelamnya kehidupan
Bahwa burung-burung nazar mencari kehidupan
Tepat di pintu gerbang kematian
Bayi Nova
Aku bersyukur kau telah berpulang ke Sang Pencipta
Matamu yang jernih tak akan ternoda
Dengan ulah hina manusia
Ibumu yang tegar itu berkata
Nanti akan dibayar oleh keluarga
Sesampainya di rumah duka
Maka meluncurlah raga kakumu Bayi Nova
Menuju ke Bogor ke tempat yang sebelumnya kau sebut rumah
Namun kutahu, kini kau bahagia
Terlepas dari keruhnya penjara dunia
Menuju bening cahaya surga
Slamat jalan bayi Nova
Teriring doa untuk kedua orangtua
Dan kini, di atas jok sepeda motor
Aku gundah hatiku tekor
Bisa-bisanya aku tertipu
Ada burung nazar mengincar remah bangkai di sekitarku
Dasar naif, dasar lugu
Dasar pahlawan kesiangan, mau nolong harus professional, tau!
Masa tak bisa membaca gelagat supir brengsek itu!
Untuk tak ketemu ATM, tak kubayarkan uang dua ratus lima puluh ribu
Karena setelah dua jam berlalu
Keluargamu Bayi Nova, menelponku
Bilang si supir angkot tlah tiba
Dan minta empat ratus ribu
Glek.
Saat aku melihatmu bayi Nova,
Dalam gendongan bunda yang berlinang air mata
Matamu bayi Nova, menatap kosong ke depan,
Seakan faham mengapa bapakmu tiba-tiba lunglai pingsan
di tengah jalan
Memeluk adikmu yang menjerit ketakutan
Bangun Pak!
Kenapa?
Mau kemana?
Belasan manusia mengitari iba.
Ke Cipto, Nova sakit, kata ibumu
Tolong mas, Tolong antarkan
Pinta salah seorang wanita kebingungan
Ayok naik sini, sebuah angkot berhenti
Tolong bawa ya bang, saya dari belakang mengikuti
Supir angkot tancap gas tak ragu lagi
Mengitari Salemba lewat stasiun cikini
Masuk UGD, kuparkir motor sembarang tak peduli
Pikiran kalut diburu firasat buruk di hati
Benar, benar saja
shit@#@#$!
Dalam usiamu yang beranjak tiga
Engkau bayi Nova, sudah lama tiada
Sebelum tiba di rumah sakit
Engkau sudah pergi menuju pelukan Tuhanmu
Sejak engkau berpanas-panas di kampung melayu
Di dalam angkot yang ngetem cari penumpang
Harap maklum supir belum dapat setoran
Setelah menempuh perjalanan nyaris empat jam dari Bogor
Setelah dua hari panas tinggi tak henti menggedor
Setelah bapakmu melepaskan egonya lalu meminjam uang ke sana-sini
Yang hanya cukup untuk pergi, tak cukup untuk kembali
Anak ibu telah meninggal
Sebelum datang kesini
Ibu yang sabar, kata dokter datar
Ibumu, mengusap kepalamu
Dalam tangis yang tertahan di ujung bibir yang bergetar
Dan air mata yang menganak sungai mengharu biru
Bapakmu, pingsan berulang kali
Anak saya ga papa kan pak?
Masih hidupkah?
Tanyanya lemah
Anak bapak sudah meninggal, bapak harus tabah
Bapakmu kembali pingsan, rebah
Kalah
Sudah bang Agus, terima kasih,
Abang supir balik saja, biar saya menemani
Ga papa mas, kata abang supir
Saya tunggu, kesian orang susah
Saya mo nolong ajah
Rumahnya jauh, di bogor sanah
Entar pulang naik apah?
Naik ambulan bisa kena sejutah
Iya juga, kataku dalam hati
Masih ada orang baik di muka bumi ini
Seorang supir angkot, kau tak menyangka
Bisa juga punya hati mulia
Abang tulungin ajah si ibu
Biar bayinya bisa cepet dibawa pulang
Disini lama,berbelit
Yang mudah bisa jadi sulit
Masa’ sih, mana mungkin begitu, pikirku ragu
Rumah sakit kan penuh petugas yang senantiasa siap menolongmu?
Kutatap Hasan bapakmu, Bayi Nova
Koko putih dekil dan celana kotor tiga ukuran lebih besar
Adikmu Sigit mengusap ingus dengan punggung jari
Bayi kumal satu tahun yang belum mengerti tragedi sedang terjadi
Ibumu Aminah menahan tangis dengan ujung kerudung warna warni
Yang kusam melambai menghitung hari
Ini yang kedua, kata ibumu tabah
Kakaknya Nova juga meninggal karena demam berdarah
tiga bulan sebelumnya
Engkau bayi Nova
Punya tumor di kornea mata
Mata kucing istilah ibumu
Karena iris matamu tengah-tengah tak berwarna
Sebulan lalu dioperasi,
Minggu besok seharusnya kemoterapi
Pakai Jamkesmas, kata ibumu
Seakan tahu pertanyaan di kepalaku
Bagaimana membayar semua itu
dan disini, di kamar jenazah
bapakmu berusaha tabah
membuka selubung pembungkus kepala
mencium dirimu bayi Nova
dan berkata
maafkan ayah
maafkan ayah
Aku menelan ludah
Pahit
Tapi tak sepahit kehidupan mereka
Bukan penyakit yang membunuh anak mereka
Tapi kemiskinan yang kuat mendera
Mungkin, jika bapakmu yang tukang kebun punya uang
Kau Bayi Nova, tak perlu berpulang
Kau punya waktu untuk berjuang
Kubayangkan bayi Nova
Lima belas tahun ke depan
Kau punya kesempatan jadi gadis yang cantik
Dengan senyum yang manis
Dan mata palsu yang indah
Agus, Supir angkot setia menemani
Menghibur bapak, memegangi Sigit bayi
Bang, bantuin si ibunya
Begitu usulnya
Kesian, biar cepet pulang
Dan ga kena biaya gede
Kuantar sang ibu mendaftar
Mengurus surat kematian
Dan mengambil jenazah
Lempar sana pingpong sini
Untuk sekedar fucking birokrasi
Begitu berbelitkah di Indonesia
Orang mati saja, urusannya dua jam baru selesai semua
Maghrib
Azan memanggil orang mengingat Tuhannya
Hatiku memanggil kesuciannya
Mayat-mayat membujur di ruang jenazah
Kaki yang kuning tak tertutupi
Bilakah aku menghadap-Mu, duhai Robbi
Mas, kata seorang petugas
Dua puluh lima ribu, mayat sudah dikemas
Tak punya uang, kata ibumu cemas
Namun engkau akhirnya bisa pulang, Bayi Nova
Berkat Jamkesmas
Meski pelayanan serba terbatas
Dan aku terpaku melihatmu, bayi Nova
Di dalam angkot M01
Tubuh kecil dibalut balutan kain batik abu-abu
Ayahmu tabah memangku dirimu
Dan ibumu yang tegar mengukur waktu
Aku tak dapat menemani
Bapak, Ibu, sing sabar ya
Menghadapi cobaaan ini
Abang supir, trima kasih atas bantuannya sampai kini
Saya tak punya uang, hanya lima puluh ribu
Sekedar menambah uang solar
Uang setoran pasti tak terkejar
Mas, ini tidak cukup
Tidak cukup? Kok begitu?
Uang setoran saya dua ratus lima puluh ribu
Lho!!! Bukannya tadi bilang mau membantu
Tapi uang solar aja ga kebeli!
Ya ,gimana? Saya tak punya uang lagi
Tadi mas kan janji akan menjamin
Setan, tadi gw suruh pulang, bilangnya lain
Ya sudah, naik angkot yang lain
Setan, orang kesusahan loe bikin main-main
Bayi Nova
Padamu aku mengadukan
Kelamnya kehidupan
Bahwa burung-burung nazar mencari kehidupan
Tepat di pintu gerbang kematian
Bayi Nova
Aku bersyukur kau telah berpulang ke Sang Pencipta
Matamu yang jernih tak akan ternoda
Dengan ulah hina manusia
Ibumu yang tegar itu berkata
Nanti akan dibayar oleh keluarga
Sesampainya di rumah duka
Maka meluncurlah raga kakumu Bayi Nova
Menuju ke Bogor ke tempat yang sebelumnya kau sebut rumah
Namun kutahu, kini kau bahagia
Terlepas dari keruhnya penjara dunia
Menuju bening cahaya surga
Slamat jalan bayi Nova
Teriring doa untuk kedua orangtua
Dan kini, di atas jok sepeda motor
Aku gundah hatiku tekor
Bisa-bisanya aku tertipu
Ada burung nazar mengincar remah bangkai di sekitarku
Dasar naif, dasar lugu
Dasar pahlawan kesiangan, mau nolong harus professional, tau!
Masa tak bisa membaca gelagat supir brengsek itu!
Untuk tak ketemu ATM, tak kubayarkan uang dua ratus lima puluh ribu
Karena setelah dua jam berlalu
Keluargamu Bayi Nova, menelponku
Bilang si supir angkot tlah tiba
Dan minta empat ratus ribu
Glek.
Minggu, Oktober 17, 2010
Di Sebuah Reuni
kawan,
ada sesuatu yang hangat
saat ku melihat
engkau disini
berapa tahun ya?
bertahun-tahun lewat
dan dirimu kini
bukan dirimu
yang dulu kuingat
kita dulu adalah sosok-sosok berwajah mungil
tapi mimpi kita tak pernah kecil
kita dulu naif dan ingin menang sendiri
tapi tak pernah kita berhenti saling berbagi
berbagi cinta
bertahun-tahun lewat
tapi sesuatu yang hangat itu
sesuatu yang sehangat rindu
masih sama seperti dulu
kawan,
aku senang bertemu denganmu
Kamis, Mei 13, 2010
Dik, Darimu Aku Belajar
bijak itu datang
dari petang perenungan
dari malam penantian
maka pemuda itu berkata
"aku tak mau menyerah"
lihatlah bahunya yang luruh
dan senyum getir sok tabah
sudahlah.
sedikit menyerah sajalah. kalah
tapi ia menggeleng
"takdir bukan untuk orang pasrah"
Maka 6 tahun harus dilaluinya untuk lulus kuliah
dengan 2 tahun yang hangus karena tidak bayar uang kuliah
mengamen di bis
jadi polisi cepe
timer angkot di terminal
menahan lapar
dari satu kiriman uang tak jelas
ke kiriman tak jelas berikutnya
makan rumput untuk mengganjal lapar
minum air keran masjid untuk menawar haus
dan sempat pingsan di kampus
setelah 3 hari tak makan
pemuda itu berkata
"aku pasti menang"
dan 2 tahun lulus belum juga bekerja
hanya ingin di bidang sesuai pendidikannya
sudahlah, ambil saja yang ada
yang penting ada buat rokok
ada buat surat lamaran berikutnya
tapi ia menggeleng
"berdamai dengan keadaan
bukan sebuah pilihan"
dan kini lihatlah
pemuda tanggung itu kini laki-laki
bahunya tegak gagah
senyum sumringah
dan napas ringan yang tertata indah
"aku diterima"
Dik, darimu aku belajar
bahwa sabar itu sebenarnya
singkat saja
dan pasti berbuah indah
pada akhirnya
dari petang perenungan
dari malam penantian
maka pemuda itu berkata
"aku tak mau menyerah"
lihatlah bahunya yang luruh
dan senyum getir sok tabah
sudahlah.
sedikit menyerah sajalah. kalah
tapi ia menggeleng
"takdir bukan untuk orang pasrah"
Maka 6 tahun harus dilaluinya untuk lulus kuliah
dengan 2 tahun yang hangus karena tidak bayar uang kuliah
mengamen di bis
jadi polisi cepe
timer angkot di terminal
menahan lapar
dari satu kiriman uang tak jelas
ke kiriman tak jelas berikutnya
makan rumput untuk mengganjal lapar
minum air keran masjid untuk menawar haus
dan sempat pingsan di kampus
setelah 3 hari tak makan
pemuda itu berkata
"aku pasti menang"
dan 2 tahun lulus belum juga bekerja
hanya ingin di bidang sesuai pendidikannya
sudahlah, ambil saja yang ada
yang penting ada buat rokok
ada buat surat lamaran berikutnya
tapi ia menggeleng
"berdamai dengan keadaan
bukan sebuah pilihan"
dan kini lihatlah
pemuda tanggung itu kini laki-laki
bahunya tegak gagah
senyum sumringah
dan napas ringan yang tertata indah
"aku diterima"
Dik, darimu aku belajar
bahwa sabar itu sebenarnya
singkat saja
dan pasti berbuah indah
pada akhirnya
Kamis, April 15, 2010
KREEK.......

Krek
Suara itu
jelas terdengar, mama
Dari balik pintu
kecil, singkat, halus
tapi jelas terdengar, mama
sejelas putih pada hitam waktu
Di malam mama bertengkar dengan ayah
Disaat aku di pojok duduk membatu
Mengukur kelu
Suara itu
Gema di semesta sadarku
Hantu setiap mimpi burukku
Krek
Adalah suara rusuk kanan mama
Saat berderak patah
oleh hantaman ayah
Krek seakan bertahun-tahun
Krek seakan bertahun-tahun
Dan bertahun-tahun masih seperti baru kemarin
napas satu-satu
wajah pucat mama, bibir biru
dan nyeri mendekap bisu
Dan bertahun-tahun aku tenggelam dalam tanya
Apakah aku
alasan ayah kerap mendera
tubuh ringkih mama
Dan bertahun-tahun aku menabung rasa bersalah
Aku, anak lelaki
Tak berdiri disana
Untuk membela
Dan bertahun-tahun aku digoda amarah
tuk membiarkan ia lepas terarah
menuju dirimu, ayah
menuju dirimu
Krek menggema bertahun-tahun
Krek hantui bertahun-tahun
hingga kini
hingga kini
Minggu, Desember 09, 2007
Temon Usai Kerja
Temon, supervisor gudang
Sejak kemarin belum pulang
Masih banyak kerjaan
Atasan tak mau tahu, semua harus diselesaikan
“Pak, kopi…
Biar tak mengantuk kami.
Pak, nasi…
Atau kami kerja setengah hati”
Anak buah bergelimpangan, lelah
24 jam tanpa henti,
Bayangan akhir bulan tambahan sedikit upah
Jadi penghibur mewah
“Coy, apa yang kau cari?”
Temon menggeleng
Lelah
Minggu depan menunggu
Rutinitas yang sama
Rasa jemu yang sama
Berjibaku dengan peluh dan waktu
Disaat orang lain damai bersama keluarga
“Coy, apa yang kau nanti?”
Temon menatap kosong
Kalah
Ironi menari-nari di pelupuk mata Temon
Anak buah tak berkeluh kesah, senang malah
Ekstra 100-200 ribu menanti
Di akhir gajian nanti
“Coy, apa yang kau dapatkan?”
Temon menangis dalam diam
Inikah hidup?
Orang kecil mesti berjuang
Dengan hasil kecil tak sepadan
Melampaui batas manusiawi
Menahan kantuk dalam seteguk kopi
Dan sejumput nasi
Orang besar tak berpeluh
Santai di kursi malas dalam sejuk ruang tengah
Mendapat berpuluh kali lipat rupiah
Dengan mudah, sangat-sangat mudah
Hingga tiba di ujung pekerjaan
Temon tak kunjung dapat jawaban
Dimana keadilan
Atau justru ini bentuk keadilan
Apakah sudah takdir
Atau sudah enggan berubah dan berpikir
Berkubang dalam rasa cepat puas
Enggan melangkah menembus batas
Temon termangu
Lelah
Tapi tak sudi kalah
Sejak kemarin belum pulang
Masih banyak kerjaan
Atasan tak mau tahu, semua harus diselesaikan
“Pak, kopi…
Biar tak mengantuk kami.
Pak, nasi…
Atau kami kerja setengah hati”
Anak buah bergelimpangan, lelah
24 jam tanpa henti,
Bayangan akhir bulan tambahan sedikit upah
Jadi penghibur mewah
“Coy, apa yang kau cari?”
Temon menggeleng
Lelah
Minggu depan menunggu
Rutinitas yang sama
Rasa jemu yang sama
Berjibaku dengan peluh dan waktu
Disaat orang lain damai bersama keluarga
“Coy, apa yang kau nanti?”
Temon menatap kosong
Kalah
Ironi menari-nari di pelupuk mata Temon
Anak buah tak berkeluh kesah, senang malah
Ekstra 100-200 ribu menanti
Di akhir gajian nanti
“Coy, apa yang kau dapatkan?”
Temon menangis dalam diam
Inikah hidup?
Orang kecil mesti berjuang
Dengan hasil kecil tak sepadan
Melampaui batas manusiawi
Menahan kantuk dalam seteguk kopi
Dan sejumput nasi
Orang besar tak berpeluh
Santai di kursi malas dalam sejuk ruang tengah
Mendapat berpuluh kali lipat rupiah
Dengan mudah, sangat-sangat mudah
Hingga tiba di ujung pekerjaan
Temon tak kunjung dapat jawaban
Dimana keadilan
Atau justru ini bentuk keadilan
Apakah sudah takdir
Atau sudah enggan berubah dan berpikir
Berkubang dalam rasa cepat puas
Enggan melangkah menembus batas
Temon termangu
Lelah
Tapi tak sudi kalah
Minggu, November 25, 2007
Adik Kecil Lari
"Bang, aku pergi
orang rumah sudah tak peduliku lagi
dikucilkan, diasingkan
sejak dulu aku selalu sendiri"
Adik kecilku sudah tidak kecil lagi
punya rasa, pikiran sendiri
entah mengapa baru kini kusadari
"Abangku empat,
semua laki-laki"
Nampaknya, semua jadi polisi
bagimu
datang saat kau membuat kesalahan
seperti dewa
punya hak untuk menunjuk hidung
"kau salah"
Adikku lari
sudah 7 hari
kemana bumi tempat malamnya beristirahat
dimana langit tempat hari-harinya lewat
Ya Tuhan.....Adik kecilku
sudah tak kecil lagi
Bocah perempuan itu
tak lagi mau selalu diberitahu
"Biarkan.... biarkan
biar kehidupan yang kan memberi pengajaran"
Keras memang
Tapi bagaimana juga
adik kecilku sudah tak kecil lagi
orang rumah sudah tak peduliku lagi
dikucilkan, diasingkan
sejak dulu aku selalu sendiri"
Adik kecilku sudah tidak kecil lagi
punya rasa, pikiran sendiri
entah mengapa baru kini kusadari
"Abangku empat,
semua laki-laki"
Nampaknya, semua jadi polisi
bagimu
datang saat kau membuat kesalahan
seperti dewa
punya hak untuk menunjuk hidung
"kau salah"
Adikku lari
sudah 7 hari
kemana bumi tempat malamnya beristirahat
dimana langit tempat hari-harinya lewat
Ya Tuhan.....Adik kecilku
sudah tak kecil lagi
Bocah perempuan itu
tak lagi mau selalu diberitahu
"Biarkan.... biarkan
biar kehidupan yang kan memberi pengajaran"
Keras memang
Tapi bagaimana juga
adik kecilku sudah tak kecil lagi
Langganan:
Postingan (Atom)



