Selasa, November 23, 2010

istriku, maaf aku mengibulimu








istriku maaf aku mengibulimu
kubilang engkau cantik
maaf, itu dusta
wanita mana yang tahan dipuji dan dipuja


kubilang engkau bak dian sastro
maaf, itu bohong juga
dian sastro bibirnya tidak berlebih
kulitnya tidak kusam
dan napasnya tidak bau cucian


kubilang engkau satu-satunya yang pernah ada di hati
maaf lagi,
pernah ada erna, ratih, cici
liza, retno, nisa, dwi
ika, dewi, dinda, bahkan arianti
sahabat dekatmu sendiri


istriku, maaf aku mengibulimu
lagi, lagi dan lagi
aku terpaksa


”kaulah yang paling mengerti aku”
bul kibal kibul itu
kau selalu
menghidangkan aneka olahan tahu
lalu ku proklamirkan sebagai kesukaanku
(padahal diam-diam kuberikan kepada bleki anjing piaraanmu)


”aku tak bisa hidup tanpamu”
bohong, sangat bohong sekali
karena untuk hidup
cukup makan 3 kali sekali
hotspot, blackberry
dan rekening bank yang penuh terisi


kubilang engkau baik
sejujurnya itu asal bicara saja
toh semua orang juga baik
aming baik
tessy juga baik
tidak lantas membuatku ingin menikahi mereka
kan?


istriku, maaf aku mengibulimu
sehingga kau jadi milikku


karena aku tak tahu lagi
bagaimana cara mengisi kosong hati ini
setiap kali
kau menghilang dari
pandanganku


tak tahu ku cara mengusir sepi
saat kau tak ada di sisi


....hingga kini

Ketika Kentut Dipertanyakan


Ketika kentut dipertanyakan
Apakah dut, ataukah bret
Ketika suaranya menggemparkan media massa
Seakan-akan akhir dunia, puncak segala puncak
Ketika baunya menjadi analisis pengamat politik
Yang tadinya busuk menjadi sesuatu yang menggelitik
Seolah-olah cerdas
Seolah-olah emas

Ketika kentut diperdebatkan
Di seminar-seminar, forum diskusi
Di gedung rakyat, di talkshow televisi
Apakah dut, ataukah bret
Menjadi tema ngobrol di warung kopi
Menjadi tren topik twitter
Mengisi sepanjang dinding facebook
Menjadi jualan andalan para makelar suara
Sesuatu yang manis untuk membujuk rakyat
Meninabobokan para ulama

lalu kentut diregulasi
Menjadi agama baru
Harapan perdamaian bumi
Tatanan dunia baru
Ketika kentut bertransformasi menjadi falsafah hidup
Merasuk ke dalam konstitusi
Mereka mencekoki rakyat dengan lagu kebangsaan
Jayalah republik kentut

apakah dut, ataukah bret?
Catatan penguasa dimana saja mengatakan:
beri sesuatu yang bau
Biarkan rakyat sibuk membahas
Dukung mendukung, berpecah belah
Biarkan rakyat begitu
Rakyat akan lupa
seberapa banyak kita
telah mengambil dari mereka

Jumat, November 19, 2010

Cintaku Sekedar Bunyi-bunyian

kau bilang:

cinta itu pembuktian
cinta itu memiliki separuh nyawa
bernama pengorbanan

maka pikirku berkelana
mengumpulkan cuplikan peristiwa ibrahim
dan sebilah pisau di leher ismail

di tangan mereka
cinta menjadi mutiara
bintang kemilau di sejarah semesta
cinta-itu-pembuktian
tak lagi retorika


meski itu berarti
seutas nyawa si buah hati

dibanding cinta mereka
cintaku sekedar bunyi-bunyian

Tok Tok Tok

tok tok tok
pintu kuketuk
boleh aku masuk?


aku di depan pintu
menunggu
ingin memasuki hatimu


jangan takut
aku bukan penjahat akut
bukan pencuri
bukan pula sales door to door yang keras kepala


aku cuma ingin minta diajari
menyayangimu sepenuh hati
sepenuh yang kau suka


aku minta diberitahu
cara memperlakukanmu
seperti yang kau mau


aku tak ingin sekedar bertamu
minum segelas teh
ngobrol ngalor ngidul
lalu berlalu


tapi bertahan di hatimu
tapi berjuang di sampingmu


aku ingin menjadi lelaki
yang mendengar keluhmu
yang membasuh lukamu
yang tawarkan dukamu
yang mendekap gembiramu
yang memapah keraguanmu
yang menuntun hari rentamu
yang melengkapimu
seperti kau melengkapiku
aku ingin semua itu


aku akan berusaha sekuat-kuatnya
seperti yang kamu mau


ajari aku
aku yakin
aku bisa


tok tok tok
pintu kuketuk
tak jua kau ijinkan aku masuk


jawab dong, jangan diam
jangan cuma berkata
tak tahu harus bilang apa
cuma tersenyum
dan bilang terima kasih
telah mengetuk pintu


jangan biarkan lelaki menunggu
di luar hujan deras, tau ;-)
deras seperti hujan di hatiku


bilang saja tidak, aku pasti berlalu
bilang ya, aku akan berusaha
tidak mengecewakanmu


tok tok tok
pintu kuketuk
tolong izinkan aku masuk
aku mulai membusuk

Es Krim Di Terik Hari











pernahkah kau menikmati sebatang es krim
di terik hari
kala haus menggayut kerongkongan


o, segar
dingin
manis
seperti senyummu, dara
kali terakhir kuingat

Senin, November 15, 2010

dik, ini sekotak susu












dik, ini sekotak susu
untuk mengganti kealpaanku
mengetahui keberadaaanmu
setiap hari melewatimu
di lampu merah
tak peduli, tak mau tahu

dik, ini sekotak susu
untuk mengganti napasmu
yang sesak disumpal asap motorku
untuk masa mudamu yang digadai kemiskinan
untuk sejuta serapah yang ku pendam
bagi mereka yang tidak peduli keadaaanmu
sejuta serapah yang kemudian
berbalik ke diriku sendiri

hari ini sekotak susu dariku
esok mungkin gelombang semangat baru
kau bangkit dari keterpurukanmu
lalu lusa mungkin giliranmu
memberikan sekotak susu
kepadaku
siapa tahu?

Jumat, November 12, 2010

Bayi Nova, Burung Nazar, dan Pahlawan Kesiangan

Ahad petang hari di Salemba
Saat aku melihatmu bayi Nova,
Dalam gendongan bunda yang berlinang air mata
Matamu bayi Nova, menatap kosong ke depan,
Seakan faham mengapa bapakmu tiba-tiba lunglai pingsan
di tengah jalan
Memeluk adikmu yang menjerit ketakutan


Bangun Pak!
Kenapa?
Mau kemana?
Belasan manusia mengitari iba.
Ke Cipto, Nova sakit, kata ibumu
Tolong mas, Tolong antarkan
Pinta salah seorang wanita kebingungan


Ayok naik sini, sebuah angkot berhenti
Tolong bawa ya bang, saya dari belakang mengikuti
Supir angkot tancap gas tak ragu lagi
Mengitari Salemba lewat stasiun cikini
Masuk UGD, kuparkir motor sembarang tak peduli
Pikiran kalut diburu firasat buruk di hati


Benar, benar saja
shit@#@#$!
Dalam usiamu yang beranjak tiga
Engkau bayi Nova, sudah lama tiada
Sebelum tiba di rumah sakit
Engkau sudah pergi menuju pelukan Tuhanmu
Sejak engkau berpanas-panas di kampung melayu
Di dalam angkot yang ngetem cari penumpang
Harap maklum supir belum dapat setoran
Setelah menempuh perjalanan nyaris empat jam dari Bogor
Setelah dua hari panas tinggi tak henti menggedor
Setelah bapakmu melepaskan egonya lalu meminjam uang ke sana-sini
Yang hanya cukup untuk pergi, tak cukup untuk kembali


Anak ibu telah meninggal
Sebelum datang kesini
Ibu yang sabar, kata dokter datar
Ibumu, mengusap kepalamu
Dalam tangis yang tertahan di ujung bibir yang bergetar
Dan air mata yang menganak sungai mengharu biru


Bapakmu, pingsan berulang kali
Anak saya ga papa kan pak?
Masih hidupkah?
Tanyanya lemah
Anak bapak sudah meninggal, bapak harus tabah
Bapakmu kembali pingsan, rebah
Kalah


Sudah bang Agus, terima kasih,
Abang supir balik saja, biar saya menemani
Ga papa mas, kata abang supir
Saya tunggu, kesian orang susah
Saya mo nolong ajah
Rumahnya jauh, di bogor sanah
Entar pulang naik apah?
Naik ambulan bisa kena sejutah


Iya juga, kataku dalam hati
Masih ada orang baik di muka bumi ini
Seorang supir angkot, kau tak menyangka
Bisa juga punya hati mulia


Abang tulungin ajah si ibu
Biar bayinya bisa cepet dibawa pulang
Disini lama,berbelit
Yang mudah bisa jadi sulit


Masa’ sih, mana mungkin begitu, pikirku ragu
Rumah sakit kan penuh petugas yang senantiasa siap menolongmu?


Kutatap Hasan bapakmu, Bayi Nova
Koko putih dekil dan celana kotor tiga ukuran lebih besar
Adikmu Sigit mengusap ingus dengan punggung jari
Bayi kumal satu tahun yang belum mengerti tragedi sedang terjadi
Ibumu Aminah menahan tangis dengan ujung kerudung warna warni
Yang kusam melambai menghitung hari


Ini yang kedua, kata ibumu tabah
Kakaknya Nova juga meninggal karena demam berdarah
tiga bulan sebelumnya


Engkau bayi Nova
Punya tumor di kornea mata
Mata kucing istilah ibumu
Karena iris matamu tengah-tengah tak berwarna
Sebulan lalu dioperasi,


Minggu besok seharusnya kemoterapi
Pakai Jamkesmas, kata ibumu
Seakan tahu pertanyaan di kepalaku
Bagaimana membayar semua itu


dan disini, di kamar jenazah
bapakmu berusaha tabah
membuka selubung pembungkus kepala
mencium dirimu bayi Nova
dan berkata
maafkan ayah
maafkan ayah


Aku menelan ludah
Pahit
Tapi tak sepahit kehidupan mereka
Bukan penyakit yang membunuh anak mereka
Tapi kemiskinan yang kuat mendera
Mungkin, jika bapakmu yang tukang kebun punya uang
Kau Bayi Nova, tak perlu berpulang


Kau punya waktu untuk berjuang


Kubayangkan bayi Nova
Lima belas tahun ke depan
Kau punya kesempatan jadi gadis yang cantik
Dengan senyum yang manis
Dan mata palsu yang indah


Agus, Supir angkot setia menemani
Menghibur bapak, memegangi Sigit bayi
Bang, bantuin si ibunya
Begitu usulnya
Kesian, biar cepet pulang
Dan ga kena biaya gede


Kuantar sang ibu mendaftar
Mengurus surat kematian
Dan mengambil jenazah
Lempar sana pingpong sini
Untuk sekedar fucking birokrasi
Begitu berbelitkah di Indonesia
Orang mati saja, urusannya dua jam baru selesai semua


Maghrib
Azan memanggil orang mengingat Tuhannya
Hatiku memanggil kesuciannya


Mayat-mayat membujur di ruang jenazah
Kaki yang kuning tak tertutupi
Bilakah aku menghadap-Mu, duhai Robbi


Mas, kata seorang petugas
Dua puluh lima ribu, mayat sudah dikemas
Tak punya uang, kata ibumu cemas
Namun engkau akhirnya bisa pulang, Bayi Nova
Berkat Jamkesmas
Meski pelayanan serba terbatas


Dan aku terpaku melihatmu, bayi Nova
Di dalam angkot M01
Tubuh kecil dibalut balutan kain batik abu-abu
Ayahmu tabah memangku dirimu
Dan ibumu yang tegar mengukur waktu


Aku tak dapat menemani
Bapak, Ibu, sing sabar ya
Menghadapi cobaaan ini


Abang supir, trima kasih atas bantuannya sampai kini
Saya tak punya uang, hanya lima puluh ribu
Sekedar menambah uang solar
Uang setoran pasti tak terkejar
Mas, ini tidak cukup
Tidak cukup? Kok begitu?
Uang setoran saya dua ratus lima puluh ribu
Lho!!! Bukannya tadi bilang mau membantu
Tapi uang solar aja ga kebeli!
Ya ,gimana? Saya tak punya uang lagi
Tadi mas kan janji akan menjamin
Setan, tadi gw suruh pulang, bilangnya lain
Ya sudah, naik angkot yang lain
Setan, orang kesusahan loe bikin main-main


Bayi Nova
Padamu aku mengadukan
Kelamnya kehidupan
Bahwa burung-burung nazar mencari kehidupan
Tepat di pintu gerbang kematian


Bayi Nova
Aku bersyukur kau telah berpulang ke Sang Pencipta
Matamu yang jernih tak akan ternoda
Dengan ulah hina manusia


Ibumu yang tegar itu berkata
Nanti akan dibayar oleh keluarga
Sesampainya di rumah duka


Maka meluncurlah raga kakumu Bayi Nova
Menuju ke Bogor ke tempat yang sebelumnya kau sebut rumah
Namun kutahu, kini kau bahagia
Terlepas dari keruhnya penjara dunia
Menuju bening cahaya surga
Slamat jalan bayi Nova
Teriring doa untuk kedua orangtua


Dan kini, di atas jok sepeda motor
Aku gundah hatiku tekor
Bisa-bisanya aku tertipu
Ada burung nazar mengincar remah bangkai di sekitarku
Dasar naif, dasar lugu
Dasar pahlawan kesiangan, mau nolong harus professional, tau!
Masa tak bisa membaca gelagat supir brengsek itu!
Untuk tak ketemu ATM, tak kubayarkan uang dua ratus lima puluh ribu
Karena setelah dua jam berlalu
Keluargamu Bayi Nova, menelponku
Bilang si supir angkot tlah tiba
Dan minta empat ratus ribu


Glek.

Mencari Jejak Hawa

Aku ingin memilikimu

Sekuat tekad adam menelusuri ratusan tahun
Mencari jejak hawa yang menguar kuat dari luas samudera pasir
Seolah jiwa adam itu sendiri
Yang tersesat

Senin, November 08, 2010

Mungkin Kita Adalah Wedus Gembel












Mungkin kita adalah wedus gembel
Awan debu panas yang meluncur dari puncak ketidakpedulian kita
Anak-anak jalanan yang berleleran seperti tarian lalat di atas kotoran
Pengemis renta yang menghiasi ruang publik kita
Hanya mendorong kita menunjuk hidung pemerintah atas kegagapan mereka
Lalu kita pulang ke rumah makan dengan nyaman bersama anak istri tercinta

Mungkin kita adalah wedus gembel
Pemujaan kita yang berlebih terhadap benda-benda
Konsumerisme menjadi agama, etalase mall menjadi berhala
Meng-alien-isasi mereka yang tak punya account facebook atau blackberry
Sebagai mereka yang biasa saja, debu dalam pergaulan sehari-hari
Mereka yang biasa saja adalah jutaan minoritas yang sesak napas melihat kemajuan jaman
Sesak napas mengukur betapa mereka jauh ketinggalan
Mereka adalah anak-anak yang ngiler melihat temannya bermain PS atau game online
Sementara ayah ibu mereka menggadaikan nyawa bekerja di bawah upah minimum minim layak kehidupan

Mungkin kita adalah wedus gembel
Yang jadikan mbah maridjan pahlawan gagah perkasa
Kita citrakan dia sebagai benteng terakhir keberanian manusia
Lalu kematiannya yang absurd mungkin saja karena
Ia tak lagi mengenali dirinya di tengah gemerlap lampu sorot media
Keanehan dikomersialisasi, kesalahan diberitakan sebesar-besarnya
Lalu kita melupakan sedikit kebaikan yang berserak dimana-mana
Kita salahkan media massa karena tak bijak membuat berita
Padahal yang mengkonsumsi berita adalah kita
Pilihan ada di tangan kita

Mungkin kita adalah wedus gembel
Awan debu panas yang membunuh manusia sekeliling kita
Karena kita lupa
Bagaimana cara menjadi manusia

Selasa, November 02, 2010

Gombal No 1101
















Aku mencintaimu
Sesederhana itu

Perlukah seutas janji?
Tuk ikat aku
Agar tak lari

Asal kau tahu
Aku bukan kambing jantan
(meski banyak kemiripan)
Tapi aku bisa jadi itu
Jika kau mau

Perlukah sekeranjang bukti?

aku naik ke lantai dua puluh gedung tinggi
Lalu lompat agar kau perduli
Aku takut ketinggian
Tapi aku bisa lakukan itu
Jika kau mau
(Dan asuransi setuju)

Atau kau ingin belah dadaku
Melihat hatiku
Dan tato namamu
Terukir disitu

Bisa saja
Biar kau tahu
Lihat darah aku pingsan
Tapi untukmu, aku bisa bertahan

Karena aku mencintaimu
Sesederhana itu